Remaja dan Kepanikan Moral Orang Dewasa

Berdasarkan pengalaman berdiskusi dengan banyak orang dewasa dengan tema “remaja”, selalu didapati reaksi yang cenderung “negatif’ tentang mereka. Gampang sekali komunitas orang dewasa melekatkan atribut ‘nakal’ dengan sederet indikator perilaku yang dianggap menyimpang, seperti seks/pergaulan bebas, narkoba, tawuran dan sebagainya. 

Tentu saya sangat memahami bahwa reaksi dari orang dewasa kebanyakan tersebut bisa saja berangkat dari fakta lapangan. Akan tetapi, terus menerus meyakini bahwa remaja akan selalu terjebak dalam masalah, membawa dampak pada perlakuan yang justru membatasi tinimbang memampukan mereka untuk mengembangkan potensi dengan maksimal

Logika yang saya pakai sederhana. Logika ini sering digunakan sebagai landasan berpikir awal dalam pendidikan. Jika anda mendidik remaja penuh dengan larangan, maka keluarannya adalah justru pelanggaran terhadap larangan. Jika anda menekan remaja dengan kerasnya aturan, yang muncul adalah usaha untuk melonggarkan sampai membongkar aturan.

Maka, tindakan reaksioner terhadap tindakan yang dianggap bermasalah pada remaja sudah seharunya dikaji kembali. Beberapa kasus reaksi berlebihan yang relevan yang perlu disebut adalah seperti anjuran tes keperawanan terhadap siswi, razia HP, dan pelarangan siswi hamil untuk ikut ujian. Selain tidak menyentuh akar persoalan, tindakan reaksioner ini bersifat sesaat, cenderung membatasi hak remaja dan hanya menampilkan “kuasa” orang dewasa atas remaja, dan sesegera mungkin akan disiasati oleh remaja dengan bentuk kreasi lainnya.

Oleh karena itu, sikap orang dewasa terhadap remaja perlu ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai harapan dan hak yang dimiliki remaja dikerdilkan oleh sempitnya cara orang dewasa membuat aturan bagi mereka. Jangan sampai ruang dinamis masa remaja harus tergerus oleh kepanikan orang dewasa atas moralitas remaja.

sumber: http://pkbi-diy.info